Minggu, 04 April 2010

Implikasi ledakan penduduk lansia

Usia harapan hidup yang makin panjang, ternyata juga harus disikapi dengan bijaksana dan waspada, karena pada titik tertentu akan menyebabkan terjadinya ledakan jumlah penduduk lansia yang akan memengaruhi banyak sisi kehidupan yang lain. Misalnya, krisis keuangan dan kesejahteraan. Sebuah kupasan menarik tentang hal ini akan kita sajikan di sini dari sebuah tulisan yang ada di situs www.mletiko.wordpress.com, di bawah judul Ledakan Penduduk Lansia, Krisis keuangan dan Kesejahteraan.


Sepintas judul di atas mungkin tampak aneh. Pertama,kenapa jumlah penduduk lanjut usia (lansia) meledak? Seperti balon yang terus mengembang dan terbang tinggi, akhirnya meledak dan kempes,jatuh ke bawah.

Kedua, apa hubungannya dengan masalah keuangan,apalagi krisis keuangan? Bukankah para lansia tidak punya uang. Kalaupun punya, uangnya sudah tidak banyak. Bagaimana para lansia dapat menyebabkan krisis keuangan global? Pada era 1960-an,1970-an,hingga 1980-an, dunia dicemaskan dengan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat.Peningkatan ini akibat tingginya angka kelahiran. Jumlah anak-anak dan penduduk muda meningkat dengan cepat.

Mereka ini sudah bisa mengonsumsi tapi belum berproduksi. Negara- negara di dunia, termasuk Indonesia mencemaskan pembiayaan yang timbul akibat peledakan jumlah anak-anak dan penduduk muda ini. Akhirnya dunia memilih keluarga berencana sebagai salah satu cara untuk mengatasi peledakan penduduk, persisnya peledakan jumlah penduduk muda. Dengan program keluarga berencana, pemerintah memperkenalkan bahwa kelahiran dapat diatur dan bahwa keluarga kecil adalah keluarga bahagia.

Di banyak negara program keluarga berencana telah berhasil menurunkan angka kelahiran.Bahkan, saat ini banyak negara telah mencapai below replacement level. Artinya, kalau angka kelahiran ini dipertahankan terus dalam waktu 30–40 tahun, jumlah penduduk akan berkurang. Pertumbuhan jumlah penduduk menjadi negatif. Indonesia telah mencapai below replacement level pada awal 2000 atau mungkin saat ini, pada periode 2005-2010.

Artinya, kalau angka kelahiran bertahan di below replacement level terus,jumlah penduduk Indonesia akan berkurang pada 2045 atau 2050. Apa artinya? Selain angka kelahiran yang rendah,angka kematian pun menurun. Angka harapan hidup semakin tinggi.Yang lahir makin sedikit yang hidup pun hidup lebih lama.Akibatnya,jumlah penduduk lansia meningkat dengan cepat dan makin cepat.

Terjadilah peledakan jumlah penduduk lansia. Indonesia mungkin akan merasakan dampak peledakan jumlah penduduk lansia ini pada 2020 atau 2025. Saat itu di mana-mana kita akan berjumpa dengan penduduk lansia, seperti pada era 1960-an ketika era baby boom,jumlah anakanak yang banyak. Mengapa meledak? Seperti halnya dengan anak-anak dan penduduk yang masih muda, penduduk lansia ini juga mengonsumsi dan tidak berproduksi.

Ini dapat menjadi beban generasi muda dan pemerintah untuk membiayai jumlah penduduk lansia yang terus meningkat dengan cepat. Konsumsi makan mereka mungkin hanya sedikit dibandingkan dengan yang muda.Tetapi,bila mereka sakit-sakitan dan hidup lama, maka biaya untuk mengurusi mereka akan jauh lebih besar daripada mengurusi yang anak-anak atau penduduk muda.

Di negara yang sudah maju,para lansia telah diperhatikan oleh pemerintah. Di Belanda misalnya, terdapat sistem pensiun yang sangat bagus untuk para lansia.Uang diambil dari pajak yang dibayarkan oleh mereka yang masih bekerja,mereka yang masih muda. Ketika jumlah penduduk lansia belum banyak sistem ini dapat berlangsung lancar.

Namun,ketika jumlahnya semakin banyak dan hidupnya makin lama, artinya jumlah pensiunan juga meningkat cepat.Pemerintah kesulitan mendapat uang untuk membiayai para lansia ini. Kesulitan dalam anggaran pemerintah ini telah dialami banyak negara, seperti negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Hal ini menyebabkan defisit anggaran pemerintah.

Karena jumlah lansia ini terus meningkat dan hidup lebih lama,maka defisit ini bisa terus bertahan dan meningkat. Ini ditambah lagi dengan sistem keuangan dunia yang penuh spekulasi. Defisit anggaran di negara maju akibat peledakan jumlah penduduk lansia ini menjadi salah satu penyebab utama krisis keuangan global jilid II. Dampak krisis ini dapat lebih parah dan terjadi pada waktu yang lebih lama.

Sementara negara yang belum maju, seperti Indonesia, belum mempunyai sistem pensiun yang intensif seperti di negara maju.Para lansia di Indonesia harus membiayai hidup mereka sendiri. Hal ini “menguntungkan” pemerintah karena tidak menyebabkan ancaman yang serius akibat defisit anggaran gara-gara peledakan jumlah penduduk lansia.

Oleh sebab itu, bagi negara seperti Indonesia, peledakan jumlah penduduk lansia tidak akan menjadi ancaman serius terhadap anggaran pemerintah. Saat ini kita menyaksikan betapa Yunani kesulitan dengan anggaran pemerintah.Apakah Yunani akan dibiarkan bangkrut atau akan ada pertolongan dari Uni Eropa atau IMF? Bagaimana dengan negara lain yang juga mengalami defisit anggaran yang serius,seperti Portugal, Spanyol,dan bahkan Inggris dan Jepang?

Masalah utang Dubai juga belum terselesaikan. Bersamaan dengan itu, beberapa negara mengalami “kepanasan ekonomi” yang bila tidak segera didinginkan dapat meledak. China dan Vietnam adalah beberapa contoh negara yang sedang mengalami “kepanasan ekonomi” tersebut. Krisis ekonomi global jilid II tampaknya memang juga akan bermula dari negara maju, seperti krisis keuangan global 2007–2008 lalu.

Walau begitu, negara berkembang, termasuk Indonesia akan terkena dampaknya. Itu sebabnya Indonesia perlu bersiap diri menghadapi kemungkinan krisis ekonomi tersebut. Tetapi, apakah negara berkembang seperti Indonesia dapat tetap “lepas tangan” pada kesejahteraan penduduk lansia yang juga akan segera meledak? Di Indonesia, penduduk lansia akan me-ledak sesudah 2020 atau 2025.

Sebagai negara demokrasi, lepas tangannya pemerintah pada ke-sejahteraan para penduduk lansia akan dibayar dengan biaya politik yang mahal. Penduduk lansia pada 2020 ke atas adalah penduduk lansia yang makin berpendidikan dan memiliki aspirasi yang tinggi. Kalau mereka tidak puas, mereka akan “menghukum” pemerintah lewat pemilihan umum di tingkat nasional maupun lokal.

Mereka pun akan melakukan demonstrasi: tidak harus turun ke jalan tapi bisa memanfaatkan media digital. Sudah saatnya mulai sekarang, pemerintah mempersiapkan diri menghadapi serbuan penduduk lansia. Dapatkan pemerintah memanfaatkan penduduk lansia sebagai aset pembangunan? Dapatkah yang muda dan yang tua bekerja sama untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, tidak pandang usia?

Kepandaian pemerintah untuk memanfaatkan serbuan para lansia ini akan sangat menentukan kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia setelah 2025.Kalau perhatian tidak dilakukan sejak saat ini, generasi yang sekarang muda akan merasakan dampaknya pada masa depan,ketika mereka menjadi lansia. Generasi yang baru lahir atau akan dilahirkan akan menderita karena mereka harus menanggung beban berat karena meledaknya jumlah penduduk lansia.(*)

Sumber : http:mletiko.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar